Coaching vs Performance Review: Apa bedanya?

Dalam konteks organisasi bisnis, dapat dikatakan bahwa coaching dan review kinerja memiliki tujuan yang hampir sama, yakni meningkatkan kemampuan kerja dan/atau mewujudkan potensi profesional seseorang.  Akan tetapi, bila dilihat dari prosesnya, coaching dan review kinerja memiliki proses yang sama sekali berbeda.

Coaching tidak memberikan saran, masukan, nasehat, ataupun tugas tambahan, sebagaimana yang dilakukan dalam proses review kinerja.  Coaching menggunakan pendekatan kemitraan (partnership) yang saling percaya, biasanya antara coach dan klien atau antara atasan dan bawahan.  Dalam coaching, terbangun pola komunikasi yang intens, dialogis dan konstruktif, yang diharapkan dapat membangkitkan kesadaran dalam diri coachee sehingga coachee mau bertindak atas dasar keinginannya sendiri.

Coach lebih banyak mendengarkan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang baik akan mendorong coachee untuk menemukan jawaban dan solusi mereka sendiri.  Saat coachee menemukan jawaban mereka sendiri, mereka akan lebih mau mengembangkan rasa tanggung jawab dan membangun rasa kepemilikan atas pencapaiannya.  Dapat dikatakan bahwa saat seseorang taking charge atas pilihan yang dibuatnya sendiri, ia akan berupaya ekstra keras untuk mencapai goal-nya.

Coaching merupakan proses yang menyenangkan sekaligus menantang, merupakan proses untuk tumbuh dan berubah ke arah yang lebih positif.  Coaching itu sendiri didefinisikan sebagai proses yang bersifat dialogis dalam jangka waktu tertentu, biasanya short-term (seringkali satu tahun atau kurang), dibangun  melalui interaksi yang genuine dan saling percaya diantara coach dan coachee,  yang bertujuan untuk mewujudkan potensi personal dan profesional dari coachee.

Bila dilihat dari peran yang dijalankan, peran seorang atasan (manager) adalah meningkatkan performa kerja bawahan, sementara peran seorang coach adalah membangkitkan kesadaran sehingga seseorang bertindak atas kemauannya sendiri.

Memberikan masukan ataupun tugas-tugas tambahan  selama review kinerja adalah yang paling sering dilakukan oleh manager.  Mengingat manager bertanggung jawab terhadap performa tim, seringkali pendekatan yang sama digunakan oleh manager untuk setiap bawahannya, yakni memberikan masukan dan menambahkan tugas-tugas baru.  Padahal belum tentu itu yang dibutuhkan oleh bawahan.

Seorang atasan yang mampu berperan sebagai coach yang baik, akan mengembangkan proses dialogis, dimana ia akan banyak bertanya dan mendengarkan.  Proses coaching memungkinkan atasan menggunakan cara-cara yang berbeda untuk mengembangkan performa kerja masing-masing bawahannya. Dengan pendekatan coaching, seorang atasan akan lebih mampu menggerakan bawahan sehingga tujuan tim akan lebih mudah tercapai.  Coaching sendiri adalah skill atau keahlian yang dapat dipelajari oleh setiap manager, melalui training yang tepat seorang manager dapat menjadi coach yang baik.

Dalam realitas saat ini, seringkali manager menyebutkan bahwa proses yang dilakukan adalah coaching, padahal belum tentu.  Bila proses review kinerja hanya memakai pendekatan satu arah, memberikan saran, menunjukkan kelemahan dan bagaimana cara memperbaikinya, maka ini sama sekali bukan proses coaching.  Coaching tidak dimaksudkan memberikan advice ataupun saran, karena sekali lagi coaching adalah proses membangun kesadaran dan melakukan perubahan yang diinginkan oleh coachee.  Namun demikian, karena keduanya sama-sama dimaksudkan untuk membuka potensi dan menjadikan orang lebih produktif , maka seringkali keduanya diartikan sama. Inilah yang mungkin menyebabkan banyak orang menjadi salah kaprah antara review kinerja atau performance review dan coaching.

 

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat dalam PortalHR.com dengan sedikit perubahan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *